pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?"
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Yaqūlul-insānu yauma’idzin aināl-mafarr" adalah wujud kepanikan total manusia pada hari tersebut. **Aināl-mafarr** (Ke mana tempat lari?) adalah seruan keputusasaan.
---
Al-Qurthubi menafsirkan bahwa manusia menyadari bahwa tidak ada tempat berlindung dari azab Allah. Ini adalah kebalikan dari keraguannya di dunia (*liyafjura amāmah*) karena ia kini tahu bahwa ia harus bertanggung jawab, tetapi sudah terlambat untuk melarikan diri.