Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Wailuy yawma’idzil lil-mukadzdzibīn" adalah pengulangan ancaman kedelapan: **Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan**. Ibnu Katsir menerangkan bahwa pengulangan ini menyusul deskripsi balasan orang beriman, yang seharusnya menjadi motivasi. Al-Qurthubi menambahkan bahwa kontras antara Surga dan Neraka harusnya menjadi pelajaran. Al-Baidhawi menguraikan bahwa penolakan mereka terhadap Surga dan janji Allah adalah kebodohan. Al-Alusi menekankan bahwa mereka kehilangan semua kenikmatan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan pengulangan ini sebagai bentuk penyesalan mereka.