Maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah ia kerjakan dan apa yang ia tinggalkan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa " ‘Alimat nafsun mā qaddamat wa akhkharat" adalah **jawaban sumpah** yang menyatakan bahwa **setiap jiwa akan mengetahui** (*‘alimat nafsun*) **apa yang telah ia kerjakan** (*mā qaddamat*) **dan apa yang ia tinggalkan** (*wa akhkharat*). Ibnu Katsir menerangkan bahwa *qaddamat* adalah amal yang telah dikerjakan, sedangkan *akhkharat* adalah amal yang ditunda atau jejak keburukan/kebaikan yang ditinggalkan. Al-Qurthubi menambahkan bahwa *akhkharat* juga dapat merujuk pada amal orang lain yang dikerjakan atas namanya. Al-Baidhawi menguraikan bahwa pengetahuan ini akan bersifat pasti dan tidak terbantahkan. Al-Alusi menekankan bahwa tidak ada satu pun perbuatan, besar atau kecil, yang luput dari ingatan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ini sebagai realisasi total atas seluruh riwayat hidup.