IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Gasyiyah Ayat 22

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Gasyiyah Ayat 22

22 Surah Al-Gasyiyah Ayat 22 ⬇️
لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ
📘 Cara Baca:
lasta 'alaihim bimuṣaiṭir
Arti Terjemahan Indonesia:
Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
لست
Engkau bukanlah
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi Nāqiṣ
Kedudukan: Fi'il Nāqiṣ
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Tā' (تَ) Isim Laisa.
Akar Kata: ل ي س - ت
عليهم
atas mereka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Jār Majrūr
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Jār (عَلَى) dan Majrūr (هِمْ). Khobar Laisa.
Akar Kata: ع ل و - ه م
ب
sebagai
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Jarr Zā'idah dan Isim
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah
Penjelasan: Bā' (ب) Jarr Zā'idah (tambahan).
Akar Kata: ب - ص ي ط ر
مسيطر
penguasa
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Isim Fā'il
Kedudukan: Isim Majrūr Lafẓan
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah
Penjelasan: Isim Majrūr secara lafaz, Manshub secara kedudukan (Maf'ūl Bih atau Khobar Laisa).
Akar Kata: ص ي ط ر
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Nafyu
Ayat ini adalah *Nafyu* (penolakan) yang menguatkan *Ḥaṣr* pada Ayat 21: **لَسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ (Lasta ʻalaihim bimuṣaiṭir/Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka)**. Nabi SAW tidak berhak memaksa mereka beriman.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Penegasan bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki kuasa untuk memaksa hati mereka.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Lasta ‘alaihim bimuṣayṭir" adalah penegasan bahwa Nabi ﷺ **bukanlah orang yang berkuasa** (*muṣayṭir*) atau memaksa mereka untuk beriman. Ath-Thabari menerangkan bahwa *muṣayṭir* berarti penguasa yang berhak memaksa keimanan. Al-Qurthubi menambahkan bahwa Allah memberi kehendak bebas kepada manusia, dan Nabi tidak boleh melampaui batas wewenang. Al-Baidhawi menguraikan bahwa keimanan adalah urusan hati yang hanya dapat diubah oleh Allah. Al-Alusi menekankan bahwa ayat ini memberikan keringanan psikologis bagi Nabi ﷺ. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ayat ini sebagai prinsip dasar dakwah: tidak ada paksaan dalam agama.