Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Penegasan bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki kuasa untuk memaksa hati mereka.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Lasta ‘alaihim bimuṣayṭir" adalah penegasan bahwa Nabi ﷺ **bukanlah orang yang berkuasa** (*muṣayṭir*) atau memaksa mereka untuk beriman. Ath-Thabari menerangkan bahwa *muṣayṭir* berarti penguasa yang berhak memaksa keimanan. Al-Qurthubi menambahkan bahwa Allah memberi kehendak bebas kepada manusia, dan Nabi tidak boleh melampaui batas wewenang. Al-Baidhawi menguraikan bahwa keimanan adalah urusan hati yang hanya dapat diubah oleh Allah. Al-Alusi menekankan bahwa ayat ini memberikan keringanan psikologis bagi Nabi ﷺ. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ayat ini sebagai prinsip dasar dakwah: tidak ada paksaan dalam agama.