Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Penegasan bahwa tidak ada yang sebanding, serupa, atau menyerupai Allah dalam segala hal, baik Dzat, sifat, maupun perbuatan.
Imam Ath-Thabari memaparkan bahwa "wa lam yakul lahu kufuwan ahad" menutup rapat-rapat pintu bagi segala bentuk penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, baik secara terang-terangan maupun samar-samar. Al-Qurthubi menambahkan bahwa tidak ada yang setara dengan Allah dalam Dzat-Nya yang tidak berjisim, dalam sifat-Nya yang sempurna, dalam perbuatan-Nya yang mengagumkan, maupun dalam hak penyembahan yang mutlak. Ibnu Katsir menguraikan bahwa ayat ini merupakan penegasan akhir yang menyempurnakan bangunan konsep tauhid dalam surah Al-Ikhlas, seolah-olah mengatakan: "Dia Esa, Tempat Bergantung, Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan, dan tidak ada yang menyerupai-Nya!" Al-Baidhawi menjelaskan bahwa peniadaan kesetaraan mencakup semua aspek baik secara kuantitas maupun kualitas, karena Allah tidak terikat oleh ruang, waktu, atau keterbatasan apapun. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan bahwa pengakuan ketiadaan tandingan bagi Allah akan melahirkan sikap pengagungan dan ketundukan yang sempurna dalam beribadah, serta menghilangkan rasa takut dan harap kepada selain-Nya.