Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa yang ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Hal atā ‘alal-insāni ḥīnum minad-dahri lam yakun syai’am madzkūrā" adalah pertanyaan retoris yang menegaskan asal-usul manusia. **'Alel-insāni ḥīnum minad-dahri** (suatu masa dari waktu) merujuk pada masa sebelum penciptaan, saat manusia masih berupa air mani yang belum terbentuk. Ibnu Katsir menerangkan bahwa **lam yakun syai’am madzkūrā** (belum merupakan sesuatu yang dapat disebut) menunjukkan betapa lemah dan tidak berartinya manusia sebelum ia diciptakan, di mana ia tidak memiliki eksistensi atau nama yang layak disebut.
---
Al-Qurthubi menguraikan bahwa ayat ini adalah bukti kuat akan **kekuasaan Allah untuk membangkitkan kembali**. Jika Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan dan materi yang hina (air mani), maka Dia pasti lebih mampu untuk menghidupkannya kembali dari kubur. Al-Baidhawi menekankan bahwa ayat ini mengingatkan manusia akan kerendahan asalnya agar tidak sombong. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *ḥīnum minad-dahri* sebagai rentang waktu tak terhingga sebelum ia menjadi janin.