➡️ Mekanisme: Non-I'lal Hadhf
➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.
Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku."
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wa ammaa idzaa mā ibtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahū fa yaqūlu rabbī ahānan" menggambarkan sifat manusia yang **salah memahami ujian** sebagai penghinaan. Ath-Thabari menerangkan bahwa jika rezekinya disempitkan, ia mengira Allah menghinanya, padahal rezeki lapang atau sempit adalah ujian. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini menunjukkan **ketidakmampuan manusia** untuk memahami hikmah ujian. Al-Baidhawi menguraikan bahwa penghinaan sejati adalah ketidakmampuan beribadah, bukan kemiskinan. Al-Alusi menekankan bahwa manusia ini mengukur cinta dan ridha Allah berdasarkan harta. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ayat 15-16 sebagai kritik terhadap pandangan materialistis yang salah.