➡️ Mekanisme: Ibdāl
➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.
➡️ Mekanisme: Iskān & Naql
➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.
➡️ Mekanisme: Non-I'lal Hadhf
➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakanku."
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Fa ammal insānu idzā mā ibtalāhu rabbuhu fa akramahū wa na’’amahū fa yaqūlu rabbī akraman" menggambarkan sifat manusia yang **salah memahami ujian** sebagai kemuliaan mutlak. Ibnu Katsir menerangkan bahwa jika Allah memberinya kekayaan dan kemuliaan, ia mengira itu adalah penghargaan, bukan ujian. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah sikap buruk yang lupa bersyukur. Al-Baidhawi menguraikan bahwa kemuliaan sejati adalah ketaatan, bukan harta. Al-Alusi menekankan bahwa manusia ini sombong dan lupa bahwa semua itu hanyalah ujian sementara. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ini sebagai penyakit mental yang mengukur iman dengan materi.