IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Mutaffifin Ayat 33

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Mutaffifin Ayat 33

33 Surah Al-Mutaffifin Ayat 33 ⬇️
وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ
📘 Cara Baca:
wa mā ursilụ 'alaihim ḥāfiẓīn
Arti Terjemahan Indonesia:
padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
و
Padahal
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Wawu Ḥālīyah dan Nafy
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Wawu Ḥālīyah.
Akar Kata: و - م ا
ما
tidak
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Nafy
Kedudukan: Nafy
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Mā (مَا) Nafy.
Akar Kata: م و ي
أرسلوا
mereka diutus
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi Majhūl
Kedudukan: Fi'il Māḍi Majhūl
I'rab & Tanda: Mabni atas Dhommah
Penjelasan: Wāwu (و) Nā'ibul Fā'il.
Akar Kata: ر س ل
عليهم
atas mereka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Jār Majrūr
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Jār (عَلَى) dan Majrūr (هِمْ).
Akar Kata: ع ل و - ه م
حافظين
sebagai penjaga
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Isim Fā'il, Jamak Muzakkar Sālim
Kedudukan: Ḥāl (Keadaan)
I'rab & Tanda: Manshub dengan Yā' (ي)
Penjelasan: Keterangan keadaan.
Akar Kata: ح ف ظ
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Nafyu dan Zajar
Pernyataan **وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (Wa mā ursilū ʻalaihim ḥāfiẓīn/Padahal tidak diutus untuk menjadi pengawas)** adalah *Nafyu* (penolakan) yang berfungsi sebagai *Zajar* (hardikan) atas keangkuhan mereka menghakimi orang lain.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Padahal mereka tidak diutus untuk menjaga (orang-orang mukmin) itu.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wa mā ursilū ‘alaihim ḥāfiẓīn" adalah bantahan: **padahal mereka (orang kafir) tidak diutus untuk menjaga** (*ḥāfiẓīn*) **orang-orang mukmin itu**. Ath-Thabari menerangkan bahwa orang kafir tidak punya hak untuk menghakimi apalagi menertawakan nasib orang beriman. Al-Qurthubi menambahkan bahwa mereka berbicara tanpa wewenang ilahi. Al-Baidhawi menguraikan bahwa mereka bertindak seolah-olah penentu takdir. Al-Alusi menekankan bahwa pengawasan dan penjagaan adalah hak Allah semata (merujuk pada 86:4). Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ayat ini sebagai penolakan atas otoritas palsu mereka.