Dan lidah dan dua bibir. Pengingat akan nikmat berbicara dan berkomunikasi.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Wa lisaanan wa syafatain" adalah penegasan atas **nikmat lidah** (untuk berbicara) dan **dua bibir** (membantu artikulasi bicara dan makan). Ibnu Katsir menerangkan bahwa lidah dan bibir adalah karunia yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Al-Qurthubi menambahkan bahwa nikmat berbicara seharusnya digunakan untuk mengucapkan syukur dan kebenaran, bukan untuk membanggakan diri. Al-Baidhawi menguraikan bahwa ini adalah sarana untuk menyampaikan ilmu dan petunjuk. Al-Alusi menekankan bahwa nikmat berbicara adalah penunjang bagi tugas kekhalifahan manusia. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan lidah dan bibir sebagai alat kontrol yang harus dijaga dari keburukan.